Dari rak-rak buku yang sempat berdebu, kini mereka kembali bersinar di linimasa digital. Buku-buku anak era 90-an seperti Lima Sekawan, Cerita Rakyat Nusantara, hingga komik Detektif Conan cetakan lawas mendadak kembali ramai dibagikan dan dibicarakan oleh para pengguna media sosial. Di balik unggahan penuh nostalgia itu, terselip kerinduan akan dunia yang lebih sederhana.
Di TikTok, tagar seperti #BukuAnak90an dan #NostalgiaMasaKecil jadi panggung bagi netizen untuk memamerkan koleksi lawas mereka. Dari kover kusam hingga ilustrasi warna-warna pastel khas penerbit lama, setiap detail mengundang komentar, “Dulu aku punya ini juga!” atau “Bau bukunya masih kebayang!”
Tak sedikit juga yang mulai memburu kembali versi cetakan lama di pasar loak, toko buku bekas, atau akun reseller online. Di Banjarmasin, Mila (31), yang kini bekerja sebagai pegawai kantor, mengaku rela menyusuri pasar Antasari hanya untuk mencari ulang buku cerita rakyat yang dulu pernah membuatnya menangis. “Aku butuh rasa itu lagi. Rasa sederhana, polos, dan hangat. Sekarang dunia kebanyakan suara dan kejar-kejaran,” tuturnya sambil menunjukkan buku Ande-Ande Lumut edisi lawas.
Fenomena ini seolah jadi respons kolektif terhadap kehidupan digital yang serba cepat dan menuntut. Ketika algoritma terus menyajikan konten viral dengan ritme yang tak henti, sebagian orang memilih mundur sejenak ke masa ketika waktu berjalan pelan—dan hiburan adalah cerita bergambar yang dibaca diam-diam sebelum tidur siang.
Penerbit lokal juga mulai menangkap gelombang ini. Beberapa di antaranya bahkan mencetak ulang buku-buku cerita anak klasik dengan kover asli dan ilustrasi yang tidak diperbarui. “Banyak pembeli yang bukan untuk anak-anak mereka, tapi untuk diri mereka sendiri. Buat dibaca ulang, disimpan, atau sekadar didekap,” ujar staf dari sebuah toko buku di Banjarbaru.
Bagi generasi yang tumbuh dengan kertas dan dongeng, nostalgia bukan sekadar kenangan, tapi ruang aman yang bisa mereka kunjungi kapan saja. Dan di tengah dunia yang semakin bising, kembali ke halaman-halaman masa kecil adalah pelarian yang paling sunyi—dan paling menghangatkan.



