KUTAI TIMUR — Para guru dan murid SMA Negeri 1 Karangan melakukan kegiatan wisata sejarah dan wisata alam ke situs Goa Mengkuris serta Air Terjun Kembar Siapat di Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, Sabtu (24/1). Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung mengenai bukti peninggalan manusia purba yang diperkirakan telah hidup puluhan ribu tahun silam.
Di lokasi tersebut, para murid dapat menyaksikan secara langsung sejumlah lukisan atau cadas pada dinding-dinding goa. Pengalaman ini disebut mampu meningkatkan minat belajar mereka terhadap sejarah, khususnya sejarah lokal.
Akhmad Nurdin, S.Pd.,Gr selaku guru sejarah SMA Negeri 1 Karangan mengatakan bahwa pembelajaran sejarah sering kali dianggap membosankan jika hanya berlangsung di dalam kelas. Karena itu, ia berinisiatif mengajak murid terjun langsung ke lapangan.
“Pembelajaran sejarah akan lebih bermakna jika dilihat langsung di lapangan. Dengan metode ini diharapkan murid lebih tertarik mempelajari sejarah, terutama sejarah lokal yang ada di sekitar tempat tinggal mereka,” ujarnya.
Selain wisata sejarah, rombongan juga mengunjungi objek wisata alam Air Terjun Kembar Siapat yang berada di Desa Batu Lepoq, Kecamatan Karangan. Air terjun tersebut berjarak tidak terlalu jauh dari Goa Mengkuris, namun akses jalannya cukup menantang sehingga disarankan menggunakan motor trail atau kendaraan serupa.

Guru lainnya, Candra Tangaran, S.Pd.,Gr mengapresiasi keindahan alam Air Terjun Kembar Siapat yang dinilai masih terjaga kebersihannya.
“Air terjun ini begitu indah dan bersih. Harapannya, tempat ini tetap dijaga agar generasi berikutnya juga bisa menikmati keindahan alam bumi Karangan,” katanya.
Salah satu murid SMA Negeri 1 Karangan, Shintia Nabila, juga mengungkapkan kebanggannya terhadap potensi alam dan sejarah di daerah tersebut.
“Bumi Karangan memiliki tempat-tempat yang indah, baik dari sisi ilmu pendidikan maupun wisatanya. Kami berharap situs bersejarah dan objek wisata ini tetap dirawat dan tidak dirusak agar generasi selanjutnya masih bisa belajar dan menikmatinya,” ujarnya.
Kegiatan wisata sejarah dan alam tersebut mendapat respons positif dari para murid yang berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk memperluas wawasan di luar kelas.[]



