“Jangan Pergi (Bekantanku)”, Lagu MOONRISE tentang Rasa Kehilangan dan Alam yang Terancam

Banjarmasin — MOONRISE kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru yang sarat makna. Lewat single “Jangan Pergi (Bekantanku)”, band reggae asal Banjarmasin ini meramu musik, rasa, dan pesan lingkungan dalam satu napas yang emosional.

Lagu ini lahir dari kegelisahan sederhana: tentang sesuatu yang dicintai, tetapi perlahan menghilang. Bekantan, satwa endemik Kalimantan, menjadi simbol utama dalam lagu ini—bukan sekadar objek, melainkan representasi hubungan manusia dengan alam yang kian rapuh.

Aransemen reggae yang hangat berpadu dengan lirik sendu, mengajak pendengar masuk ke ruang refleksi tentang kehilangan, kepedulian, dan harapan. Musiknya mengalir tenang, namun menyimpan pesan yang kuat.

Vokalis MOONRISE, Dian Wahyudi, menyebut lagu ini sebagai bentuk ungkapan rasa sekaligus pengingat.

Deskripsi Gambar

“Lagu ini kami tulis dari rasa takut kehilangan. Bekantan kami jadikan simbol, bahwa ada banyak hal di sekitar kita yang perlahan hilang kalau tidak dijaga,” ujarnya.

Menurut Dian, “Jangan Pergi (Bekantanku)” sengaja dibuat dengan lirik sederhana agar pesannya mudah diterima semua kalangan.
“Kami ingin orang menikmati lagunya dulu, merasakan emosinya. Setelah itu, semoga muncul kesadaran untuk lebih peduli,” tambahnya.

Single ini sudah dirilis di seluruh platform digital. MOONRISE berharap lagu ini bisa menjadi pengingat bahwa menjaga alam juga berarti menjaga masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *