BANJARMASIN — Malam di Teluk Kelayan, Sabtu (9/5), dipenuhi bunyi-bunyian tak biasa. Denting logam bekas, pukulan galon plastik, hingga ritme dari limbah rumah tangga menyatu di tengah permukiman padat warga.
Festival “Musik Sampah” akhirnya dipentaskan setelah melalui serangkaian proses kreatif bersama warga dan anak-anak sekitar. Di lokasi yang selama ini lebih akrab dengan persoalan kepadatan kawasan dan sampah, ruang publik kecil di Teluk Kelayan mendadak berubah menjadi panggung kesenian warga.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR, hadir membuka kegiatan tersebut. Ia didampingi Ketua TP PKK Kota Banjarmasin, Neli Listriana.
Namun festival itu tidak berhenti sebagai pertunjukan semata. Di balik musik yang dimainkan dari barang-barang bekas, muncul gagasan yang lebih besar: mengaktivasi Teluk Kelayan sebagai ruang pengembangan kesenian warga.
Bagi Muh. Arqam, penggagas kegiatan, kawasan itu menyimpan potensi sosial yang selama ini kurang disentuh. Ia sengaja memilih Kelayan—wilayah padat penduduk yang memiliki kerentanan konflik sosial—sebagai lokasi program.
“Tempat seperti ini penting diaktivasi. Partisipasi warga itu kuncinya,” ujarnya saat ditemui dalam proses kreatif beberapa waktu lalu.
Anak-anak sekitar turut dilibatkan sejak awal. Mereka diajak mengenal sampah bukan semata sebagai barang buangan, melainkan material yang dapat diolah menjadi karya dan bunyi. Menurut Arqam, proses itu menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
“Ini kado kecil kami bersama masyarakat untuk 500 tahun Banjarmasin,” katanya.
Kalimat itu terasa penting. Sebab yang sedang dicoba dibangun di Kelayan bukan hanya acara seremonial, melainkan kemungkinan baru bagi ruang publik di tengah kawasan padat penduduk.
Malam pementasan memperlihatkan bagaimana barang-barang bekas, benda sehari-hari, hingga alat tradisional dapat diubah menjadi pengalaman artistik yang utuh. Sejumlah komposer hadir dengan pendekatan dan pembacaan masing-masing terhadap isu lingkungan, ruang kota, dan kehidupan warga.
Komposer Novyandi Saputra membuka pertunjukan melalui karya Residu. Ia melibatkan anak-anak sekitar Teluk Kelayan untuk memukul berbagai barang bekas sambil menyanyikan lagu-lagu tradisional anak. Bunyi yang lahir terasa riuh dan spontan—seperti keseharian kampung yang diterjemahkan menjadi komposisi musik.
Sementara itu, Surya Tajudin menghadirkan karya Garak. Melalui perkusi dari material sampah dan suara-suara bising yang sengaja dipertahankan kasar, ia menyampaikan pesan bahwa sampah bukan sesuatu yang selesai ketika dibuang.
Energi penonton kemudian dibangkitkan lewat penampilan Zaki Budia Sani melalui repertoar Journey, yang bergerak lebih dinamis dan interaktif.
Sedangkan karya Talagumba dibawakan M Azra Raihan bersama Muhammad Febriyanor melalui eksplorasi bunyi yang bertolak dari alat pertanian tradisional. Mereka menghadirkan alat penapis padi—yang biasa digunakan untuk memisahkan bulir padi berisi dan kosong—sebagai sumber ritme dan bunyi musikal. Alat yang lekat dengan kerja agraris itu diolah menjadi medium pertunjukan, menghadirkan suara-suara repetitif yang khas sekaligus mengingatkan pada relasi masyarakat Banjar dengan tradisi dan kerja keseharian.
Dalam sambutannya, Yamin menyebut kegiatan tersebut relevan dengan kondisi Banjarmasin yang masih bergulat dengan persoalan sampah. Ia mengapresiasi pendekatan seni yang dipakai untuk membangun kesadaran warga.
“Saya sangat mengapresiasi Festival Musik Sampah yang dimotori pegiat kebudayaan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Muhammad Arqam, penerima dukungan dari Kementerian Kebudayaan, dan dilaksanakan di Teluk Kelayan,” ujar Yamin.
Ia berharap kegiatan semacam itu dapat terus berjalan dan berkembang menjadi gerakan berbasis masyarakat.
“Dengan peralatan musik dari barang bekas atau daur ulang sampah, kita berharap kegiatan ini terus berjalan lancar. Ke depan, Kelurahan Kelayan bisa menjadi contoh atau pilot project untuk pembinaan pengurangan sampah plastik dan pengolahan dari sumbernya,” tambahnya.
Yamin juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat, tokoh lingkungan, dan para ketua RT yang terlibat dalam penyelenggaraan festival tersebut.
Pembukaan acara turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Selatan, Anggar Sari Ayuati. Kehadirannya menjadi sinyal bahwa gagasan aktivasi Teluk Kelayan sebagai ruang seni bukan sesuatu yang mustahil direalisasikan.[]




