Oleh: Riza Akhmad
PANDEMI COVID-19 tidak sedikitpun menyurutkan semangat kawan-kawan dari sebuah organisasi yang bergerak di bidang kesenian, Kampoeng Seni Boedaja (KSB) ULM. Mereka melangsungkan agenda tahunan Aruh dan Diesnatalis melalui siaran langsung dalam jaringan (daring) atau streaming online, Ahad (12/9/2020) malam.
Susunan acara nya sama seperti Aruh dan Diesnatalis di tahun lalu. Sungguh saya sangat mengapresiasi pekerjaan mereka kali ini, karena pekerjaan streaming online ini jauh lebih rumit dari pentas biasa.
“DISTOPIA”, Karya dan Sutradara Salma Saphira. Karya ini menceritakan polemik tanah Meratus yang masih panas diperbincangkan. Bukan kasusnya, kali ini saya akan mengomentari perihal garapan yakni keseluruhan item yang dihadirkan di dalamnya.
Yang pertama, saya merasa tidak mampu melihat sosok aktor secara visual. Karena kesalahan dalam pemilahan warna kostum, yang gelap menyatu dengan warna background, hitam. Sehingga, bagian tubuh aktor terpotong, hanya menyisakan bagian wajah dan telapak tangan saja.
Seharusnya penata artistik maupun penata busana mampu melihat ini dan segera memilih warna yang lebih cerah daripada warna hitam pada background.
Yang kedua, setting artistik yang saya tangkap dalam visual ada bentuk seperti “Lalaya” yang warnanya masih segar dengan hehijaun warna daun diatasnya. Artinya, seting tempat kejadian adalah di dalam Balai Adat.
Setahu saya, “Lalaya” yang segar biasa didapati pada saat pelaksanaan Aruh Adat saja atau setelahnya, itu pun mulai terlihat layu. Yang saya maksud di sini dalam visual kurang mendukung cerita dalam naskah.
Seharusnya, sutradara mampu meng-eksplore jalan ceritanya dengan menunjukkan kejadian bahwasanya balai adat baru selesai melaksanakan Aruh Adat kalau ingin menghadirkan setting “Lalaya” yang masih hijau segar.
Yang Ketiga, saya rasa ini sangat fatal, sehingga terkesan dipaksa-paksakan harus ada dalam garapan ini, yaitu tari-tarian entah itu tarian kontemporer ataupun tari balet.
Saya menyayangkannya dikarenakan naskah ini bentuknya realis. Namun, ketika muncul para penari dengan tarian-tariannya yang absurd, seketika mengalahkan bentuk realis dari naskah tersebut.
Seharusnya sutradara sejak awal proses kreatif sudah menentukan karya ini akan disajikan dalam bentuk realis atau non-realis.
Yang keempat, saya terganggu dengan suara dari backsound atau musik latar atas kejadian dalam cerita. Saya mendapati backsound yang kurang tepat dengan kejadian dalam cerita, sehingga membuat itu mengganggu dialog dari para aktor yang harus sampai ke telinga para penonton.
Saya paham backsound atau musik ini untuk membangun suasana dari sosok aktor. Seharusnya sutrada bersama penata musik mampu melihat karya ini adalah sebuah pesan. Harus disampaikan melalui lakon seorang aktor. Bukan musik yang berbicara.
Yang kelima, ini seringkali terjadi dalam sebuah penggarapan, mengenai komposisi panggung. Ketika di mana ada sekian banyak aktor yang mengisi panggung, maka terjadilah visual yang terlihat seperti pagar betis atau foto keluarga.
Seharusnya, sutrada teliti mengenai blocking seperti ini agar tidak merusak visual.
Dan mengenai aktor, mungkin ini hanya mengenai berapa lama waktu dalam proses kreatif.
Selebihnya, saya berikan apresiasi lebih untuk Sutradara Salma Saphira yang telah berani menyuguhkan karya “DISTOPIA” dalam sebuah garapan teater di tengah panas-panasnya isu tentang Tanah Meratus sekarang ini.
Jangan menyerah sampai disini, teruslah berkarya dan sampaikanlah keluh kesah melui karya-karya.
Salam lestari. Lestari alam, lestari satwa Indonesia.[]




Mantap kritik nya, biar makin mengevaluasi lg untuk aruh seni tahun selanjutnya
Semangat terus berkarya buat KSB