Sebutir Kurma
ilustrasi. dream.co.id

Sebutir Kurma

Diposting pada

Oleh Almin Hatta

 

SUATU hari pada Ramadhan tahun lalu, seorang teman mengajak keluar kota. Sekitar dua jam perjalanan, sampailah kami di sebuah desa nelayan yang merana. 

 

Di desa yang terletak di pesisir pantai itu, teman tadi membagi-bagikan puluhan paket sembako kepada segenap warga yang rata-rata kurang berpunya. Teman itu juga memberi uang beberapa juta rupiah untuk perbaikan mushala.

 

Ketika berbuka puasa di sebuah warung dalam perjalanan pulang dari desa itu, aku iseng bertanya. Kenapa untuk membagikan sembako saja ia harus jauh-jauh ke desa di pesisir pantai sana? Bukankah di kota pun banyak orang papa yang sangat layak menerima pemberian dari orang berpunya? Bukankah di kota masih banyak masjid dan mushala yang membutuhkan dana untuk kemakmurannya?

 

Teman itu, tanpa menoleh, menjawab dengan suara datar saja, “Di kota memang lebih banyak orang sengsara ketimbang di desa. Di kota juga lebih banyak masjid dan mushala yang membutuhkan dana. Tapi ….” Teman itu berhenti bicara, dan menyeruput tehnya.

 

“Tapi apa?”

 

“Ya. Tapi di kota juga ada begitu banyak orang kaya yang setiap saat bisa menyantuni sasamanya, dan setiap saat bisa memberikan dana bantuan untuk kebutuhan rumah ibadah di sekitar tempat tinggalnya. Sedangkan di desa ….” Teman itu berhenti lagi, mengambil sepotong kue.

 

“Sedangkan di desa kenapa?”

 

“Ya. Sedangkan di desa boleh dibilang tak ada orang kaya. Kalau pun ada, kekayaannya tak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan orang kaya di kota. Selain itu, jumlah orang yang agak berpunya di desa itu cuma satu dua orang saja, sehingga tak cukup kuat untuk memakmurkan masjid atau mushala. Tapi…” Teman itu berhenti lagi, untuk kembali mengambil sepotong kue.

 

“Tapi apa lagi?”

 

“Ya. Tapi…. Maksudku begini. Aku melakukan ini bukan karena soal keberadaan orang kaya di desa atau pun di kota. Tapi sekadar berharap agar apa yang aku lakukan ini setidaknya punya makna…,”

 

“Bukankah melakukan pemberian kepada orang-orang miskin di perkotaan juga punya makna? Bukankah membantu masjid atau mushala di kota juga punya makna…,” aku memotong omongannya.

 

“Ya. Tapi tetap saja ada bedanya. Di kota, sebuah masjid membutuhkan dana puluhan bahkan ratusan juta hanya sekadar untuk konsumsi berbuka puasa saja. Sedangkan di desa, uang belasan juta saja sudah cukup untuk membangun sebuah mushala,” jawab teman itu sambil bangkit dari kursinya.

 

Di tengah perjalanan pulang menerabas gelapnya malam di jalan pedesaan, aku menggumam perlahan, “Sebutir kurma pun akan sangat bermakna ketika disuguhkan dalam acara buka puasa kaum dhuafa….”

 

“Ya, sebagaimana halnya segelas air putih yang sangat berharga dan nikmat bagi orang yang benar-benar dahaga,” timpal teman itu sambil tetap  menatap lurus ke muka, agar mobil yang dikemudikannya tak menabrak warga desa yang kerap menyeberang jalan semaunya.***    

                          

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *