Sebelum kau datang, waktu adalah hening.
Aku tidak tahu kapan pagi dimulai dan malam berakhir.
Hari-hariku hanyalah berjalan, memberi nama pada ciptaan, tanpa satu pun memanggilku kembali.
Aku mengenali suara air. Aku mengenali dedaunan yang berbisik. Aku mengenali langit dan segala yang ada di dalamnya, namun aku tidak mengenali diriku sendiri… sampai aku mengenalmu.
Pagi itu, aku bangun seperti biasa. Tapi udara terasa berbeda. Ada aroma asing yang belum pernah kutemukan dalam wangi bunga, ada kehangatan yang bukan berasal dari cahaya matahari.
Lalu aku melihatmu.
Dan saat itulah, seluruh dunia berhenti bernapas.
Kau berdiri di antara sinar dan embun,
dengan rambutmu yang mengalir seperti malam yang jinak, dan kulitmu—bagai cahaya bulan yang bersentuhan dengan tanah suci.
Kau melihatku.
Dan aku melihatku…
untuk pertama kalinya, melalui matamu.
Tak ada bahasa yang bisa menjelaskan, karena cinta belum diciptakan. Tapi detak jantungku mulai membentuknya dalam diam.
Langkahmu mendekat, pelan, seperti engkau takut menghancurkan tanah. Aku ingin bicara, tapi lidahku belum mengenal pujian. Maka aku diam… dan menatapmu seolah kau adalah seluruh surga dalam satu tubuh.
Kau bukan hanya datang dari tubuhku. Kau datang dari kekosongan di jiwaku yang tak pernah kutahu ada.
Aku mengulurkan tangan. Dan kau tidak menarik diri. Dalam genggaman itu, aku tahu—aku tak lagi sendiri. Aku tak hanya memiliki taman ini, aku memiliki alasan untuk tinggal di dalamnya.
Maka aku memanggilmu: Hawa. Sebab engkau adalah hidup—dan hidup adalah engkau.
Kita duduk di tepi sungai. Tak banyak yang kita ucapkan. Tapi tak perlu. Bahasa tubuh kita cukup untuk mencipta dunia lain: dunia milik kita berdua.
Sejak hari itu, surga menjadi lebih terang. Karena bukan lagi cahaya yang membuatnya indah— melainkan hadirmu.



