Gerimis di Banjalaga

Diposting pada

Malam tumpah seperti tinta hitam di atas Sungai Lumbai. Gerimis turun malu-malu, membasahi papan lanting yang berderit dihempas arus. Lampu damar bergoyang ditiup angin, memantulkan sinar kuning pucat di permukaan air yang keruh, seolah ada sesuatu yang bergerak di dasarnya. Bau kayu basah, anyir ikan, keringat buruh, dan darah yang belum sempat dicuci, berbaur jadi harum pahit Banjalaga malam ini.

Banjalaga belum lahir. Masih sekadar kampung-kampung di tepi sungai, tempat para Patih sibuk merajut siasat. Dan kami, anak-anak lanting, hanya ingin hidup satu malam lagi. Atau dua. Atau setidaknya cukup lama agar tak hanyut tanpa nama.

Kahar mencengkeram lengan Jumra. Nafasnya panas, campur bau tembakau murah.

“Jumra… demi Sungai Lumbai, kembalikan gulungan itu. Jangan bermain siasat. Kau kira itu apa? Catatan nama utang warung tembakau?”

Jumra menyeringai. Belati tipis terselip di pinggangnya, berkilat di bawah sinar damar.

“Kalau ini cuma catatan nama utang, namamu pasti paling atas, Kar.”

Kahar mendecak. Matanya liar menatap kanan-kiri, seolah tiap bayangan bisa berubah jadi jagau suruhan Patih.

“Kau tak paham, Ra. Itu catatan nama. Orang-orang yang hendak dijagal atas siasat Patih Kencana. Termasuk Patih Ranu. Kau kira Patih Kencana berbelas pada rakyat lanting macam kita?”

Jumra mendongak. Gerimis menetes pelan di wajahnya.

“Patih Ranu pun tak lebih suci. Lidahnya manis berbicara tentang rakyat, tapi tangannya membeli belati. Semua Patih penjudi, Kar. Bedanya hanya siapa yang menang lebih dahulu.”

Suara kayu berderak. Dari celah lanting, muncul wajah bulat Ganding. Senyumnya lebar, memamerkan gigi kuning bagai biji jagung rebus. Tangannya masih memanggul karung kecil berbau garam.

“Eh… gulungan itu dijual saja. Faksi mana yang bayar paling mahal, ke situlah kita berpihak. Hidup ini, Ra… Kar… cuma perkara siapa paling banyak punya keping tembaga.”

Kahar memelototi Ganding.

“Sial kau, Dang. Kita ini rakyat, bukan penjudi!”

Ganding terkekeh pendek.

“Lah, hidup di Banjalaga memang judi. Bangun pagi, belum tentu malam masih bernyawa.”

Jumra tersenyum tipis. Ia memutar gulungan lontar di jarinya, seakan hanya mainan anak-anak. Hujan makin deras. Suara gong kecil mendadak terdengar dari ujung pelabuhan. Orang-orang berlari. Jumra melirik cepat ke arah Balai Patih.

“Lihat itu… jagau Patih Kencana. Ada sesuatu malam ini.”

Kahar tampak makin resah.

“Ra… kuharap kau berakal. Serahkan saja gulungan itu. Kalau ketahuan, kepala kita akan digantung di serambi Balai Patih, jadi tontonan orang sekampung.”

Jumra menatap Kahar, wajahnya setengah sendu, setengah keras.

“Lebih baik aku mati di ujung belati… daripada hidup selamanya sebagai bayang-bayang para Patih.”

Tiba-tiba Jumra melompat turun ke lanting di bawah, lincah seperti musang. Kahar berseru, buru-buru mengejar. Ganding menghela napas panjang, lalu melompat ikut, sambil bergumam.

“Gerimis… hujan paling jahanam. Selalu bikin orang tergelincir. Entah ke sungai… atau ke siasat.”

Dan di tengah deru hujan, Jumra berbisik pada dirinya sendiri:

“Malam ini mungkin aku selamat. Tapi esok… Banjalaga pasti haus darah lagi.”[bersambung]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *