Jangkar Tua Sungai Belasung

Jangkar arus berjenis grapnel di Jl Pangeran Samudera No 16, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sumber : TACB Kota Banjarmasin

Sebuah jangkar tua ditemukan dalam proyek pengerukan tepi jalan di Jl Pangeran Samudera, Kota Banjarmasin. Kronologinya berawal ketika alat berat yang digunakan dalam pengerjaan proyek untuk mengeruk, menyentuh sebuah benda besi besar di bawah permukaan tanah. Setelah benda diangkat, ternyata sebuah jangkar berukuran besar. Jangkar ditemukan di titik lokasi Jl Pangeran Samudera No 16, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dari keterangan lisan penduduk setempat, jangkar berukuran besar tersebut diperkirakan milik kapal besar.

Tinggi jangkar itu mencapai dua meter dan berbahan besi, berwarna hitam legam. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti asal-usul jangkar tersebut. Namun, para pekerja dan warga setempat menduga bahwa jangkar ini merupakan peninggalan masa lalu yang terkubur akibat perubahan alur sungai dan perkembangan kota Banjarmasin (pelitanusantara.net, 16 Januari 2025). Hasil kajian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Banjarmasin kemudian membuka tabir sejarah dari jangkar.

Kalau ditinjau dari lokasi penemuan jangkar, berada di sekitar Sungai Belasung. Sungai Belasung saat ini adalah anak sungai yang mengalir dari wilayah Kanal Tatas hingga ke wilayah Sungai Telawang. Idwar Saleh (1981/1982) menuliskan pada wilayah pertengahan Boomstraat (Jalan Lambung Mangkurat) terdapat simpang empat, yang dikenal dengan Keramat Belasung. Arah ke hilir sampai dengan muara sungai Talawang terdapat rumah penjara (sekarang Kantor Pos Banjarmasin) dan rumah-rumah orang Belanda. Lebih ke hilir lagi terdapat daerah batas ·pelabuhan (boom, sekarang Kantor Walikota Banjarmasin), gudang garam dan lapangan menimbun batu arang (batubara).

Apabila dibandingkan dengan kondisi sekarang, di area penemuan jangkar mengalir Sungai Belasung dari wilayah Tatas (sekarang Masjid Sabilal Muhtadin) hingga Sungai Telawang. Wajar bila Idwar Saleh (1981/1981) menuliskan ada area yang dinamakan Keramat Belasung yang terletak tidak jauh dari posisi Sungai Belasung sekarang. Dugaan awal bahwa jangkar yang ditemukan tersebut adalah jangkar kapal yang bisa melayari Sungai barito, hingga anak Sungai Martapura maupun sungai lebih kecil lagi yakni Sungai Belasung.

 Berikutnya, jenis kapal apa yang menggunakan jangkar ini? Dapat dibandingkan dengan hasil penemuan sebelumnya di tahun 2023 berupa tinggalan budaya material di kawasan rehabilitasi Langgar Al Hinduan, Sungai Mesa Banjarmasin. Temuan di lokasi langgar Al Hinduan adalah ketel uap dengan model Cochran Boiler, produksi sekitar tahun 1885 untuk small river steamer (kapal uap kecil yang melayari sungai) berjenis boiler pipa air (water steam) dengan bahan bakar batubara.

 Temuan di lokasi langgar Al Hinduan adalah ketel uap dengan model Cochran Boiler, produksi tahun 1885 untuk small river steamer berjenis boiler pipa air (water steam) dengan bahan bakar batubara.
Temuan di lokasi langgar Al Hinduan adalah ketel uap dengan model Cochran Boiler, produksi tahun 1885 untuk small river steamer berjenis boiler pipa air (water steam) dengan bahan bakar batubara.

Kalau dikomparasikan lagi dengan temuan sebelumnya, pada tahun 1997 yang lalu, pernah ditemukan sisa kapal masa pemerintahan Hindia Belanda yang Karam di Bantaran Sungai Martapura, Jalan Kapten Pierre Tendean, Sungai Mesa, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dari hasil penggalian, bagian yang ditampakkan baru sekitar 30% dari bagian kapal utuh yang tenggelam. Ukuran kapal secara utuh adalah panjang 15 meter dan lebar 4 meter.

Deskripsi Gambar

Bahan pembuat kapal adalah pelat besi baja (untuk badan kapal) dan besi siku (kerangka kapal). Dari analisis diketahui bahwa kapal ini merupakan kapal tarik, tidak bermesin. Kapal ini digerakkan dengan cara ditarik oleh kapal lain yang bermotor (tugboat). Mengingat bahwa kapal ini menggunakan pelat besi baja dan besi siku, yang baru mulai diproduksi pada awal abad ke- 20, maka usia kapal diperkirakan sekitar 75 tahun (pada tahun 1997 lalu).

Dari segi perbandingan ini, diperkirakan kemungkinan besar adalah kapal berjenis small river steamer (kapal uap kecil yang melayari sungai). Pada masa Hindia Belanda tahun 1905-1914 sudah beroperasi sedikitnya dua kapal uap berjenis small river steamer (kapal uap kecil yang melayari sungai) berjenis boiler pipa air (water steam) dengan bahan bakar batubara. Dalam sumber gambar KITLV terdapat visualisasi kapal uap yakni Kapal Pemerintah Hindia Belanda S.S. Selaton (model stoomboot) melayari sungai barito tahun 1905-1914.

Kapal Pemerintah Hindia Belanda SS Selaton yang melayari wilayah Sungai Barito tahun 1905-1914. Jangkar yang ditemukan di Kota Banjarmasin tahun 2023 diperkirakan adalah jangkar dengan jenis small river steamer (kapal uap kecil yang melayari sungai) seperti ini. Sumber : KITLV.Berikutnya adalah tipologi, dari segi bentuk jangkar memiliki kemiripan dengan jangkar kapal laut produksi Cina (Qingdao, Provinsi Shandong) yang bertipe Jangkar Cakar Empat Galvanis atau disebut juga dengan Grapple Anchor atau Jangkar Grapple. Istilah lainnya adalah Jangkar Grapnel. Jangkar grapnel sangat cocok untuk dasar dangkal karena bentuknya memungkinkan siripnya untuk mengait ke benda mati dan menahannya dengan kuat. Umumnya digunakan untuk perahu yang lebih kecil dan periode berlabuh yang pendek.

Jangkar grapnel yang ditemukan di area Kota Banjarmasin ini berupa alat atau perangkat dengan kait ganda di salah satu ujungnya dan diikatkan pada tali, yang dilempar atau dikaitkan pada tambatan yang kuat untuk mengamankan objek yang diikatkan pada ujung tali lainnya. Dari segi asal kata grapnel berarti alat yang terdiri dari beberapa kait untuk mencengkeram dan menahan dan sering dilempar dengan tali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *