Dari Sabuhur ke Sungai Lintuni, Jejak Perjuangan Hadji Boejasin (1)

Hadji Boejasin versi AI berdasarkan Lukisan Hadji Boejasin menurut versi Anggraini Antemas (2004).

Nama Hadji Boejasin pada era kekinian menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kabupaten Tanah Laut. Beralamat di Jalan Hadji Boejasin, Pelaihari. Pembangunan RSUD diawali tahun 1979/1980 melalui DIP Proyek Pengembangan RSU Propinsi, Kabupaten, dan Kotamadya di Kalimantan Selatan. Digarap sepanjang Pelita III, awalnya bernama RSU Pelaihari diresmikan 28 Januari 1984. Sejak tanggal 28 Januari 1986, diberi nama RSU Hadji Boejasin. Mengabadikan nama tokoh pahlawan dari Bumi Tuntung Pandang.

Bagaimana catatan sejarah perjuangannya? akan diulas dalam beberapa seri tulisan ini. Nama Hadji Boejasin memiliki beberapa ejaan penulisan berbeda dalam arsip kolonial Hindia Belanda, diantaranya Hadji Boeijasin, Hadji Boeiyasin atau Hadjie Boeyasin. Beliau adalah salah seorang pahlawan Perang Banjar (1859-1906) yang berjuang melawan penjajahan kolonial Hindia Belanda di wilayah Tanah Laut.

Pada era itu wilayah Tanah Laut dan Pelaihari/Pleiarie khususnya di bawah pengawasan Letnan Gubernur dan Panglima Militer Belanda, Kapten Infanteri F. Van Genderen. Kelompok masyarakat di beberapa wilayah ini memiliki kepala pemerintahannya sendiri. Seperti wilayah Pleiarie dengan Tabanio yang dipimpin Kiai Abukusin. Kemudian, wilayah Maluka dengan pimpinan Haji Matali, serta wilayah Satoei yang dipimpin oleh Achmad. Pada wilayah Pelaihari juga sudah diangkat seorang Kapten Cina bernama Go-Ho. Susunan administrasi ini berlangsung hingga tahun 1864 tanpa ada perubahan.

Pada 4 Oktober 1864 terjadi penggantian administrator Van Genderen yang bertindak sebagai pemimpin sipil sipil yang juga komandan militer digantikan oleh Letnan Satu Infanteri J. H. Romswinckel. Setahun kemudian tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1865, berhanti lagi ke pemimpin sebelumnya yakni Letnan Satu Infanteri P.van Drimmelen.

Medan perjuangan Hadji Boejasin di wilayah Tabanio (warna versi AI) berdasarkan Lukisan Wilayah Tabanio tahun 1850 an. Sumber : KITLV.

Hadji Boejasin berjuang di masa transisi Kesultanan Banjar ke penguasa Hindia Belanda. Beliau berjuang bersama Demang Lehman dan Kiai Langlang Buana. Beliau terkenal sebagai pahlawan muda yang dijuluki oleh pihak Belanda sebagai “Berandal Licin”, karena pergerakan beliau yang sangat susah ditebak dan beliau pada saat melakukan penyerangan suka membakar tangsi-tangsi Belanda.

Deskripsi Gambar

Hadji Boejasin lahir di desa Sabuhur pada tahun 1837. Masa kecil dan remaja dilalui dengan belajar agama dan taat beribadah. Berangkat haji dalam usia muda, dan karena itulah, pada waktu berjuang namanya disebut Hadji Boejasin.  Terdapat versi pendapat bahwa beliau adalah penghulu, ahli agama, jadi untuk sezamannya prestasinya cukup menonjol. Karena masih muda, sudah naik haji, tahu ilmu agama, dan berasal dari keluarga berada. Sebab tidak mungkin haji kalau tidak berada karena biaya naik haji terbilang cukup mahal era itu. Ketika ia muncul dalam barisan perjuangan bersama Demang Lehman dan Pangeran Antasari, ia baru berusia kira-kira 20 tahun. Jadi nyatanya ia masih muda sekali.

Tetapi Demang Lehman telah melihat adanya sifat-sifat kepahlawanan yang dimiliki oleh Hadji Boejasin yang masih sangat muda. Beberapa catatan pemerintah kolonial Belanda menuliskan Hadji Boejasin disebut juga pemuka agama yang paling fanatik. Dimana sebagian besar wilayah Tanah Laut berada dalam kekuasaan pemberontak yang dipimpinnya.

Haji Boejasin atau Hadjie Buyassin dalam catatan pemerintah kolonial Belanda memiliki istri bernama Salamah. Kemudian putra sulung bernama Mohammad Hassan dan Mohamad Nassier, putra bungsunya. Selanjutnya, saudara iparnya bernama Sauida dan pengikutnya bernama Mohamad Tanim dan Kudu atau Dula. (bersambung)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *