Foto ilustrasi

Nyai Ratoe Kemala Sari, Perempuan Tangguh dari Bandjar

Diposting pada

SEJARAH masih milik kaum laki-laki. Begitulah yang saya baca dari sejarah perempuan tulisan Koentowijoyo. Baginya, sejarah perempuan adalah sebuah kemungkinan (yang akan ditulis) pada masa mendatang. Ramalannya benar, setidaknya beberapa sejarawan millenial telah menulis sejarah yang bertemakan perempuan, bahkan sejarawannya sendiri pun perempuan.

 

Lalu, bagaimana dengan sejarah perempuan banjar?. Sependek penelusuran saya, masih jarang kalau tidak dikatakan nihil. Oleh karena itu saya tergerak melakukan kajian awal tentang perempuan banjar dan stigma gendernya di masa lalu. Dalam kajian tersebut, secara tak sengaja saya bertemu dengan tokoh Nyai Ratoe Kemala Sari yang menurut saya punya peranan unik. Disaat beberapa perempuan banjar tunduk dibawah kuasa patriarkis semisal dijadikan alat perkawinan politik, Nyai Ratoe Kemala Sari seakan mendobrak stigma itu. Tentu hal ini membuat rasa penasaran saya semakin membuncah.

 

Perempuan ini berasal dari Amuntai, menurut catatan Aalgemen Verslag daerah ini padat penduduk dan merupakan tanah kepunyaan sultan (Sulaiman Saidullah?). Dia merupakan puteri dari Adipati Singasari seorang yang diberi amanah oleh kerajaan sebagai wakil penguasa di Banua Lima. Yusliani Noor menyebutkan bahwa Adipati Singasari memumpunyai anak perempuan lain yang bernama Alooh Oengka dan dinikahi oleh Pambakal Karim. Kelak pernikahan ini melahirkan seorang putera bernama Zainal Abidin atau yang terkenal dengan nama Adipati Danoeradja penguasa Banua Lima (sepeninggal Adipati Singasari). Catatan tersebut diperkuat oleh gelar “nyai” yang disematkan pada Kemala Sari sebagai tanda dia berasal dari kalangan rakyat biasa, bukan dari tutus raja-raja. Nampaknya gelar adipati pada Adipati Singasari dan Danoeradja adalah sebuah pemberian dari kerajaan atas jasa mereka.

 

Koran De Locomotief tanggal 29-01-1909 yang telah memuat artikel tentang oopstand (pemberontakan) di Bandjermasin menyebutkan bahwa Nyai Ratoe Kemala Sari adalah janda dari Sultan Sulaiman Saidullah dan Sultan Adam Al Watsiqbillah. Tidak ada penjelasan setelahnya. Saya berasumsi bahwa Nyai Ratoe Kemala Sari ini adalah seorang selir dari Sultan Sulaiman Saidullah. Tentu keduanya terpaut umur yang jauh, Kemala Sari masih sangat muda. Menurut catatan diskusi saya bersama seorang sejarawan ULM yaitu Mansyur, beliau mengatakan bahwa Kemala Sari adalah seorang penari gandut.

 

Penari Gandut yang disajikan untuk kalangan istana tentu merupakan gadis pilihan yang cantik dan pandai menari. Pun begitupula dengan Kemala Sari, ditambah dengan kelihaiannya berbicara, nampaknya memikat putera mahkota Adam Alwasiqbillah.

 

Semua kesaksian dari catatan Belanda memandang negatif terhadap perempuan ini. A. Van der Ven mengatakan bahwa Sultan Adam yang dicintai rakyatnya karena baik budinya itu tunduk dan lemah hati terhadap permaisurinya. Sampai Sultan Adam wafat, dialah yang memegang cap kerajaan sebagai pengesahan keputusan atas nama sultan. Pantas saja Residen Van Hengst mengatakan bahwa dengan semena-mena dia menaikkan pajak. Rupa-rupanya karena dia memegang cap kerajaan itu. Akibatnya dia dibenci oleh rakyat. Halewijn juga mengatakan bahwa Nyai Ratoe Kemala Sari adalah seorang yang serakah dan boros akan harta. Begitupula dengan penyataan Solomon Muller yang mengatakan dia senang mengoleksi botol-botol anggur penuh intan dan menumpuk emas dan uang perak di tanah lunggunya, Martapura.

 

Pandangan negatif Belanda diatas tak terlepas dari peran Nyai Raote Kemala Sari yang pernah menghalang-halangi monopoli perdagangan garam. Bambang Subiyakto dalam Saudagar Wanita dan Bisnis Garam mengatakan bahwa garam pada abad XIX merupakan komoditas yang laku di Kerajaan Banjar mengingat daerah ini bukan penghasil garam. Kemala Sari nampaknya cukup jeli melihat potensi itu. Karena mempunyai darah Amuntai, dia berbakat untuk dagang ditambah dia memanfaatkan posisinya sebagai “orang istana”. Tahun 1849-1850, Belanda pernah menyita muatan garam dari kapal bugis dengan tujuan Banjarmasin, tentu ini tidak lain adalah atas pesanan Nyai Ratoe Kemala Sari.

 

Demikian pula pada posisinya sebagai pemimpin Dewan Kerajaan yang membantu Sultan Adam ketika sudah sangat uzur dan sakit-sakitan. Dewan tersebut berisi bangsawan berpengaruh. Nampaknya dewan ini pernah menghalang-halangi pula monopoli dagang Belanda.

 

Pasca wafatnya Sultan Adam, Nyai Ratoe Kemala Sari ini masih menunjukkan “taji-nya”. Dia berani muncul kepermukaan pasang badan untuk menjagokan putera kesayangannya Prabu Anom untuk menduduki tahta, meski pada akhirnya dia merubah keputusannya mengusung Pangeran Hidayatullah, karena sadar akan sifat Prabu Anom yang mudah naik darah dan tak terkendali. Akan tetapi pilihannya (yang sesuai dengan wasiat Sultan Adam) dikesampingkan oleh Belanda dan mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai pengganti Sultan Adam. Diam-diam dia menggerakkan orang-orangnya untuk melawan Belanda dan terus menerus mencoba untuk memegang kendali kontrol pergantian tahta (De locomotief tanggal 29-01-1909).

 

De Oostpost tanggal 17-10-1864, Java-bode tanggal 08-10-1864, dan Nederlandsche staatscourant tanggal 29-11-1864 mencatat bahwa Nyai Raote Kemala Sari dibawa ke pengadilan militer atas tuduhan kejadian di Barabai. Besar kemungkinan kejadian di Barabai ini adalah percobaan perlawanan terhadap Belanda. Perempuan tangguh ini meninggal dunia pada umur lebih dari 100 tahun tahun 1864.

 

Penulis: Mursalin (Peminat Sejarah Kebudayaan Banjar UIN Antasari Banjarmasin) 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *