Do’a Seorang Ibu

Diposting pada

Oleh : Almin Hatta

 

ANAK, kata orang bijak, bukan cuma sekadar manifestasi dari hasil hubungan kasih-sayang pria dan wanita. Anak juga bukan sekadar pelipur lara ayah dan bunda, bukan sekadar penghilang lelah mama dan papa setelah didera kerja dari pagi sampai senja. Anak bahkan lebih merupakan ujian bagi kedua orangtuanya.

 

Ketika anak sakit, maka kedua orangtuanya harus benar-benar bersabar merawatnya sampai berurai air mata. Ketika anak tak pulang sampai larut malam, maka ayah dan ibunya pun tak tidur semalaman.

 

Tapi ujian terberat bagi orangtua adalah ketika anaknya nakal luar biasa, ketika anaknya terlibat minuman haram dan narkoba, ketika anaknya terlibat pencurian dan pemerkosaan, ketika anaknya terlibat terorisme dan melakukan pengebonan yang merenggut nyawa sekian orang.

 

Tersebutlah seorang anak yang nakalnya benar-benar kelewatan. Anak yatim yang berangkat remaja ini siang-malam selalu terlibat minuman haram dan obat-obatan terlarang. Ia juga seringkali terlibat perkelahian dan aksi pemalakan. Karena itu, ia menjadi langganan aksi penangkapan pihak kepolisian.

 

Meski demikian, setiap kali anak tersebut ditangkap aparat keamanan, ibunya selalu dengan penuh kasih berusaha membebaskan. Ibunya selalu dengan teramat sayang membawakannya makanan ke ruang tahanan.

 

Sikap ibu ini jelas membuktikan bahwa kasih ibu terhadap anak benar-benar sepanjang jalan kehidupan, dan kasih ibu adalah do’a bagi si anak tercinta agar suatu hari kelak keluar dari kegelapan. 

 

Mengutip cerita KH Mustofa Bisri, dulu ketika kerajaan Romawi masih berjaya, ada seorang pemuda yatim yang dijeboloskan ke penjara. Tiap hari pemuda itu diwajibkan menjalani hukuman berupa kerja paksa membangun jalan.

 

Suatu hari, ibunya menghadap raja, memohon anaknya dibebaskan dari penjara dan juga dari kerja paksa. Tapi permohonannya tak dikabulkan, kecuali ia mampu membayar uang tebusan. 

 

Perempuan miskin itu pulang dengan lunglai. Tapi kasihnya kepada anaknya membuatnya tak pernah putus asa. Ketika berteduh di bawah pohon rindang dalam perjalanan pulang, ia pun berdoa kepada Tuhan agar anaknya dibebaskan.

 

Pada saat yang sama, si anak sedang digiring pulang dari kerja paksa bersama ratusan tahanan lainnya. Di tengah perjalanan, rantai besi yang mengikat kedua kaki anak muda itu tiba-tiba putus. Tentara yang mengawalnya keheranan, lalu mengganti rantai besi itu dan mengikatkannya kembali. Tapi baru saja pemuda itu berjalan beberapa langkah, rantai besi itu lagi-lagi putus dengan sendirinya.

 

Kejadian itu pun dilaporkan kepada kepala penjara. Lalu, kepala penjara pun bertanya, “Hai anak muda, apakah kamu masih memiliki ibu?”

“Ya, jawab pemuda itu?”

“Rupanya do’a ibumu dikabulkan. Tuhan telah membebaskanmu. Karena itu kami tak mungkin lagi mampu menahanmu,” ujar kepala penjara itu sambil memerintahkan bawahannya untuk membebaskan pemuda itu.

 

Ya, bergitulah mustajabnya do’a seorang ibu. Akhirnya, selamat Hari Ibu.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *