BANJARMASIN – Iklim akademik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) semakin semarak. Bukan hanya berkutat di ranah pembelajaran, tetapi bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Semangat menjadi universitas dengan level World Class University (WCU) makin memacu para civitas akademika.
Hal ini terlihat dari kunjungan tim Leiden University Institute for History, beserta tim peneliti dari Universitas Leiden, ke Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Rabu (14/1). Koordinatir tim, Alicia Schrikker, Senior University Lecturer dan Direktur Riset dari Leiden University Institute for History mengatakan kunjungan bertujuan dalam rangka penjajakan awal kerjasama dan diskusi bidang penelitian.
“Saat ini kami tengah melaksanakan riset terkait jejak sejarah leluhur kami yang terlibat dalam Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), Leonardus Jacob, di Kalimantan bagian Selatan. Semoga bisa menjadi awal dari ajang kerjasama yang baik antara ULM dan Universitas Leiden” Kata Alicia dalam acara yang bertempat di Laboratorium Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP ULM.
Harapan besar dari kegiatan ini adalah dapat memperkaya pemahaman mengenai sejarah Kalimantan Selatan. Terutama dalam konteks interaksi budaya antar bangsa. Dengan kerjasama intensif, diharapkan akan terbuka lebih banyak kesempatan riset bersama yang memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Khususnya di bidang sejarah.
Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Melisa Prawita Sari, menyambut baik kunjungan ini. “Kami sangat senang dan merasa terhormat atas kunjungan yang dilakukan tim dari Universitas Leiden. Kegiatan tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga membuka peluang untuk kerja sama yang lebih erat antara kedua lembaga,” kata Melisa.
Melisa juga berharap kunjungan ini dapat memberikan dampak positif bagi Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP ULM dalam rangkaian akreditasi internasional ACQUIN. Akreditasi akan berlangsung pada Bulan Februari tahun 2025.
Peneliti Sejarah di Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP ULM, Mansyur, menambahkan bahwa kunjungan dan diskusi ini memberikan warna dalam iklim akademik. Diskusi yang sangat mendalam dan interaktif juga membuka peluang mengembangkan riset terkait sejarah lokal. Serta memberikan pemahaman lebih utuh tentang peran Kalimantan dalam percaturan sejarah.
Demikian halnya dikemukakan Peneliti Sejarah Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP ULM lainnya, Willy Alfarius. “Kegiatan ini menandai langkah penting dalam menjalin hubungan kerjasama internasional yang lebih kuat, serta mendorong perkembangan riset sejarah di Kalimantan Selatan,” jelas Willy.



