Hujan tak lagi turun sebagai benang halus. Malam ini, hujan menghujam lanting bagai ribuan jarum. Sungai Lumbai tampak hitam, permukaannya retak oleh riak hujan. Damar berkedip, seolah tak kuasa melawan angin. Dan malam itu, damar tak hanya penerang. Ia menjadi saksi darah.
—
Pasar lanting sepi. Lampu damar menyala redup. Bau ikan asin bercampur amis darah. Di tiang dermaga, tergantung tubuh seorang saudagar. Bajunya berlumur darah, perutnya koyak. Damar menyorot wajah pucatnya, matanya terbuka menatap kosong.
Kahar berdiri dekat tiang, menyeka gagang galah kayu dengan tangannya yang gemetar. Matanya memandangi darah menetes ke sungai.
“Astaga… ini bukan lagi siasat, Ra. Ini sudah perang.”
—
Jumra berdiri sambil memeriksa simpul jaring yang terselip di pinggangnya. Hujan mengalir di wajahnya.
“Ini baru permulaan. Balai Patih akan menumpahkan lebih banyak darah supaya nama Pangeran Muda tetap terkubur.”
—
Ganding muncul, menggulung sejumput garam dalam kain kecil di tangannya. Garam menetes basah kena hujan. Matanya menyala gelisah.
“Apa kau kira gulungan lontarmu itu jimat, Ra? Lontar itu cuma kulit daun yang akan menenggelamkan kita semua.”
—
Jumra menghembuskan napas panjang, menarik jaringnya lebih rapat.
“Kalau benar begitu, kenapa Balai Patih rela membunuh demi sepotong lontar?”
—
[Mereka berjalan melewati lanting-lanting dagang yang tertutup rapat. Rakyat lanting bersembunyi, takut darah menyentuh lanting mereka.]
[Dari dalam sebuah lanting terdengar gumaman pedagang:]
“Semua ini gara-gara kapal dagang. Dulu mereka singgah ke Nagara Dira. Sekarang makin banyak yang singgah ke Banjalaga. Maraga tak terima. Dia lebih baik bakar sungai daripada lihat kita kaya.”
—
[Suara lain berbisik pelan:]
“Maraga bukan cuma penguasa. Dia pamannya Pangeran Muda. Kau dengar? Pamannya sendiri. Darah keluarga kini saling berburu di Sungai Lumbai.”
—
Ganding menaburkan sisa garam ke air yang menggenang di lantai lanting.
“Orang bilang Pangeran Muda anak sulung Raja Dira. Tapi pamannya, Maraga, rebut singgasana. Dan sekarang, paman kejar keponakan bagai buaya lapar.”
—
Kahar menatap Ganding, menggenggam gagang galah lebih erat.
“Kau dengar itu, Ra? Bahkan tembaga lebih berat dari nurani di lanting ini.”
—
Ganding mendekat, wajahnya licik. Ia merogoh kocek, mencium koin tembaga yang basah oleh hujan.
“Dengar, Ra. Jagau Kencana mencarimu. Dia bilang kalau aku mau selamat, cukup bilang di mana kau sembunyikan gulungan itu. Mereka akan beri kita tembaga… banyak tembaga. Kita bisa hidup damai. Tinggalkan saja urusan ini.”
—
Jumra menyentak simpul jaringnya, matanya tajam.
“Kalau kau memang mau jual rahasia, Dang… lakukanlah sekarang. Tapi ingat, Balai Patih mungkin bisa membunuhku. Tapi sungai ini tak akan pernah lupa siapa pengkhianatnya.”
—
Langkah berat mendekat. Jagau Kencana muncul di ujung lanting bersama dua prajurit. Parangnya basah, meneteskan air hujan dan… darah. Matanya merah bagai binatang terluka.
“Sudah cukup main kucing-kucingan. Serahkan gulungan lontar itu, Jumra. Atau kalian akan tergantung di dermaga seperti saudagar itu.”
—
Kahar mundur, mengibaskan galahnya ke lantai lanting. Ganding terpaku. Jumra berdiri tegak, matanya seperti bara.
—
[Tiba-tiba, dari arah seberang sungai, lampu damar berkedip. Sekilas tampak siluet seorang lelaki muda berdiri di atas atap lanting, rambut terjuntai basah. Lalu lenyap ditelan hujan.]
Jagau Kencana menoleh cepat.
“Siapa itu?!”
Tak ada jawaban. Hujan menggebuk atap lanting makin keras. Sungai Lumbai bergolak, seolah tertawa.
—
Jagau Kencana menggertakkan gigi.
“Tangkap mereka!”
—
[Adegan aksi dimulai:]
Jumra mencengkram bahu Kahar.
“Lari, Kar!”
—
[Mereka berlari di papan lanting yang licin. Air hujan menggenang. Kaki Jumra berdecit menjejak papan basah. Kahar masih membawa galah. Ganding menggenggam karung garamnya erat.]
Prajurit:
“Jangan biarkan mereka sampai ke perahu!”
—
Ganding terengah.
“Ra… kita ke mana?!”
Jumra melirik ke kanan, melihat deretan perahu dagang yang diikat di tepi dermaga.
“Ke perahu! Potong sungai!”
—
[Mereka meloncat ke lanting dagang. Meja-meja roboh. Tumpukan ikan asin berserakan. Damar terjatuh, cahayanya padam.]
Jagau Kencana berteriak:
“Tutup semua jalur! Cari mereka sampai ke bawah lanting!”
—
Kahar hampir terpeleset. Jumra menariknya.
“Jangan jatuh, Kar! Airnya hitam, kita tak kelihatan kalau jatuh!”
—
[Prajurit Jagau mengejar. Salah satunya mengayunkan galah panjang, mencoba mendorong Jumra ke sungai. Jumra menepis dengan sikutnya. Lanting oleng, menabrak lanting lain. Bunyi kayu berderak seperti tulang patah.]
—
Ganding berbisik terengah, mengecek garam di karungnya.
“Aku… aku mau ke Jagau Kencana saja, Ra. Biar dia ampuni kita!”
—
Jumra mengibaskan jaring ke arah Ganding.
“Coba kau sebut nama Kencana lagi, Dang… dan kuceburkan kau ke sungai sekarang juga.”
—
[Mereka akhirnya mencapai tepi dermaga. Jumra melompat ke atas perahu kecil. Kahar menyusul sambil meletakkan galah di bahunya. Ganding terpaku sejenak, lalu akhirnya melompat juga.]
Prajurit mengayunkan tombak ke arah mereka. Tombak menancap di sisi perahu, kayunya retak.
Jumra melepas tali tambat dengan cepat. Kahar mendayung sekuat tenaga. Air sungai memercik ke wajah mereka.
Kahar teriak:
“Ra… kalau aku mati malam ini… bilang sama Sungai Lumbai, aku bukan pengecut!”
—
[Lanting-lanting di belakang mereka terbakar samar. Jagau Kencana memaki di dermaga. Damar-damar padam satu per satu. Sungai Lumbai kini gelap, hanya suara riaknya yang tertawa pelan.]
—
Dan malam pun makin hitam. Di sungai, hanya riak gelap yang terus berbisik: “Pangeran Muda… Pangeran Muda…”
“Malam ini darah tumpah. Tapi Sungai Lumbai belum selesai berbicara.”
Bersambung…



